Pemanis Buatan Justru Picu Diabetes, Mitos atau Fakta?

LIFEHACKS! | 23 OKTOBER 2017
SHARE
20

Pecinta makanan atau minuman manis tentu tidak bisa lepas dari gula. Perasa ini umumnya terbuat dari tebu untuk gula putih, sementara gula merah biasanya diolah dari aren. Namun, berkat perkembangan teknologi, pemanis makanan maupun minuman tidak melulu harus diperoleh dari tebu dan aren. Pasalnya sekarang sudah ada pemanis buatan yang rasanya bukan cuma mirip, tetapi juga harganya terjangkau.

Pemanis buatan atau artifisial sudah dimanfaatkan dalam banyak produk. Selain itu, dalam takaran tepat, produk ini tidak akan mengancam berat badan karena kandungan kalorinya yang lebih rendah daripada pemanis asli. Meski demikian, apakah pemanis buatan benar-benar aman? Apakah ada dampak negatif yang mengancam kesehatan kita kalau dikonsumsi dalam jangka waktu panjang? 

Hubungan antara pemanis buatan dengan peluang diabetes 

Sejumlah penelitian dilakukan terhadap pemanis artifisial. Studi teranyar mengatakan bahwa konsumsi pemanis buatan ternyata meningkatkan peluang diabetes tipe dua. Pemicunya adalah gangguan yang terjadi pada kemampuan tubuh dalam mengendalikan glukosa atau gula darah. Jika kita tak membatasi pemakaian pemanis buatan, maka dampaknya akan terasa oleh tubuh. 

Riset yang dilakukan profesor di Universitas Adelaide, Australia, tersebut memang berskala kecil. Hanya ada 27 responden sehat yang terlibat. Kemudian, studu dilaksanakan dengan memberi sejumlah kapsul berisi pemanis buatan yang jumlahnya setara lima kaleng minuman diet. Selain itu, kapsul tadi memiliki kandungan acesulfame K dan sukralosa yang harus responden minum tiga kali sehari sehari selama dua minggu. Sementara ada kelompok respinden lain yang diberikan kapsul plasebo. 

Setelah studi selesai, hasil tes menunjukkan bahwa responden yang mengonsumsi pemanis buatan mengalami gangguan dalam mengelola kadar glukosa. Hal tersebut berdampak langsung pada diabetes tipe dua kalau diterapkan dalam jangka panjang. Lantas, gula darah responden secara signifikan naik setelah responden mengonsumsi pemanis artifisial. Dalam hal ini, peptida yang seharusnya mencegah naiknya kadar gula darah seusai makan dan minum malah ikut terganggu.

Kendati hasilnya cukup mengerikan, penelitian di atas belum bisa dijadikan acuan karena kurang mampu mewakili dan harus dibuktikan lagi lewat riset berskala besar. Di sisi lain, bukan berarti kita mengabaikan penelitian terhadap pemanis buatan. Bagaimanapun, konsumsi gula secara berlebihan memang kurang baik untuk kesehatan. Daripada telat dan terlanjur membuat tubuh terkena diabetes, akan lebih baik bila kita mengatur asupan gula sehari-hari.

pemanis buatan diabetes

Lifehacks!

komentar

0 komentar